|
Pefindo Pangkas Peringkat Mobile-8 Telecom |
|
|
|
|
Written by Fong
|
|
Thursday, 04 December 2008 07:31 |
Perusahaan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memangkas rating PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) baik untuk perusahaannya maupun obligasi pertama yang diterbitkan tahun 2007 senilai Rp 675 miliar.
Peringkatnya turun dari idBBB- menjadi idCCC dan menempatkan peringkat dalam 'Creditwatch' dengan implikasi negatif. Masa berlaku rating itu untuk periode 2-16 Desember 2008.
"Penurunan peringkat disebabkan oleh adanya potensi gagal bayar (default) perusahaan atas guaranteed senior notes sebesar US$100 juta," kata analis Pefindo Niken Indriarsih & Vonny Widjaja dalam siaran pers, Kamis (4/12/2008). |
|
Read more...
|
|
|
Mobile-8 Tak Punya Dana Bayar Obligasi, Siapkan Restrukturisasi |
|
|
|
|
Written by Fong
|
|
Thursday, 04 December 2008 07:30 |
PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) tak memiliki dana untuk membayar obligasinya yang jatuh tempo pada 16 Desember sebesar US$ 100 juta. Mobile-8 pun kini tengah mengupayakan restrukturisasi dengan memperpanjang masa jatuh tempo obligasi tersebut.
"Kita sekarang sedang dalam diskusi intensif dengan para pemegang obligasi. Kita minta restukturisasi, bentuknya kemungkinan perpanjangan jatuh tempo, tapi hasil pastinya masih menunggu negosiasi nanti," jelas Head of Corporate Communications FREN, Yolanda Nainggolan saat dikonfirmasi detikFinance, Rabu (3/12/2008).
Obligasi US$ 100 juta itu sendiri seharusnya jatuh tempo pada tahun 2013. Namun menurut Yolanda karena Mobile-8 tidak dapat melakukan penawaran tender setelah terjadinya pergantian pemegang saham pengendali, maka DB Trustee sebagai pihak kreditor obligasi tersebut menyatakan obligasi itu gagal bayar.
|
|
Read more...
|
|
INCO akan Produksi Nikel Hidroksida |
|
|
|
|
Written by Fong
|
|
Wednesday, 03 December 2008 04:04 |
|
Jakarta - PT International Nickel Indonesia (INCO) akan memproduksi nikel hidroksida di Pomalaa, Sulawesi Tengah. INCO saat ini mengkaji pembangunan fasilitas pengolahan pelindian dengan tekanan tinggi untuk memproduksi nikel tersebut. Perseroan menargetkan mampu memproduksi 30.000 metrik ton per tahun. Samuel Sekuritas mengatakan mereka telah merevisi valuasi untuk INCO, dan untuk target harga yang baru setelah mempertimbangkan penurunan harga nikel dan outlook ekonomi adalah Rp 1.320 per saham. |
|
|
BUMI : 'Deal' dengan Northstar Jalan Terus |
|
|
|
|
Written by Fong
|
|
Wednesday, 03 December 2008 06:17 |
|
Jakarta - Meskipun Texas Pacific Group (TPG) keluar dari konsorsium Northstar, tapi proses buyout tetap berjalan terus. Menurut Senior Vice President Investor Relations PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Dillep Srivastava keluarnya Texas tidak ada kaitannya dengan kesepakatan antara BUMI dan Northstar yang telah dilakukan 28 Novemmber lalu. "Jadi tidak ada perubahan," ujarnya. Menurutnya, ada tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai keputusan berapa persen saham yang akan dimiliki Northstar di BUMI terkait pengambialihan utang senilai US$ 575 juta dari Oddickson Finance. "Jadi tetap finalisasinya pada akhir Desember ini," tukasnya. Perusahaan private equity AS Texas Pacific Group (TPG) dikabarkan mundur dari transaksi pengambilalihan gadai saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui pembelian utang PT Bakrie & Brothers Tbk US$ 575 juta dari kreditor terbesarnya Odickson Finance SA. Northstar Pacific Partners Ltd, mitra TPG yang didirikan oleh mantan bankir Goldman Sachs Patrick Waluyo, dan Bakrie & Brothers, perusahaan induk investasi yang dikendalikan oleh keluarga Bakrie sekaligus pemilik Bumi, menyepakati pengambilalihan utang itu pada 28 November. TPG mundur, seperti dikutip Financial Times Senin, berdasarkan ketidakpastian atas transaksi itu setelah berubah dari kesepakatan semula di mana Northstar membeli secara utuh 6,79 miliar saham atau 35% saham Bumi dari Bakrie & Brothers senilai US$ 1,3 miliar atau Rp 2.100. |
|
INCO Konsultasi Publik Soal Amdal |
|
|
|
|
Written by Fong
|
|
Wednesday, 03 December 2008 04:03 |
|
Jakarta - PT International Nickel Indonesia (INCO) berencana mengadakan konsultasi publik sebagai langkah awal studi AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) terkait pengembangan usaha di Pomala dan Bahodopi. Direktur INCO Indra Ginting, dalam keterangan pers, di Jakarta, Selasa (2/12), mengatakan tahapan konsultasi publik ini diselenggarakan untuk memperoleh saran, pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan atas rencana pengembangan usaha perseroan. Perseroan telah memulai proses kajian atas lingkungan di Pomalaa dan Bahodopi, termasuk studi AMDAL, sebagaimana dipersyaratkan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menurut Ginting, masukan hasil konsultasi ini akan disertakan dalam dokumen kerangka acuan analisis dampak lingkungan hidup. INCO saat ini tengah melakukan kajian atas pembangunan fasilitas pengolahan pelindian dengan tekanan tinggi (high pressure acid leach HPAL) di Pomalaa untuk menghasilkan nikel hidroksida, sebagai produk antara dengan kapasitas produksi tahunan sekitar 30.000 metrik ton. |
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 5 of 29 |